Punk
merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu
dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead
seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga
dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir pada awal
tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi
hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh
anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami
masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh
politik yang memicu tingkat pengangguran dan
kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya
sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun
kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk
sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem
berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak
pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di
jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion
yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan
rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan
diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket
kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial,
kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak
yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk
disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan
perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu
masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang
masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
Gaya
hidup dan Ideologi
Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia
memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan
penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara
rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan
membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat
dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para
pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh,
mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi
audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer)
berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis
kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini
satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan
hebohnya pemikiran (ideas).
Punk selanjutnya berkembang sebagai
buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik
yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan
nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya,
lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia.
Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan
berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran
serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.
Akibatnya punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak
mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan
rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Gaya hidup ialah relatif tidak ada
seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata
"ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam
kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan
situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek
"jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita.
Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada
zamannya masing-masing.
Punk
dan Anarkisme
Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam pada tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk
pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum
punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada
sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band
punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya
pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara,
masyarakat, maupun industri musik.
Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan
perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya,
yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi
yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa
negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.
Negara menetapkan pemberlakuan hukum
dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga
negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum
anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk
memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan
sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur
tangan negara.
Kaum punk memaknai anarkisme tidak
hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme
berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman,
karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman
sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).
Keterlibatan kaum punk dalam ideologi
anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu
sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya.
Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan
gerakan Anarko-punk.
Punk di
Indonesia
Berbekal etika DIY, beberapa
komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan
distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi
band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini
berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.
CD dan kaset tidak lagi menjadi
satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan
t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat
terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan
terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi's, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri
lainnya.
Anarko-punk adalah bagian dari gerakan punk yang
dilakukan baik oleh kelompok, band, maupun individu-individu yang secara khusus
menyebarkan ide-ide Anarkisme. Dengan kata lain, Anarko-punk adalah sebuah
sub-budaya yang menggabungkan musik punk dan gerakan politik Anarkisme. Tidak
semua punk diiidentikkan dengan anarkisme. Namun, anarkisme memiliki peran yang
signifikan dalam punk. Begitu juga sebaliknya, punk memberikan pengaruh yang
besar pada wajah dunia anarkisme kontemporer.
Beberapa band punk penting yang cukup popular
dan dianggap sebagai pelopor dari gerakan anarko-punk antara lain Crass, Conflict, dan Subhumans.
Sedangkan di indonesia beberapa band anarko-punk yang cukup populer antara lain
Marjinal, Bunga Hitam, dan
lain sebagainya.
Beberapa isu politik yang banyak diangkat
oleh anarko-punk antara lain dukungannya terhadap gerakan anti perang, hak
hidup satwa, feminisme, isu lingkungan, kebersamaan, anti kapitalisme, dan
beberapa kasus-kasus yang juga banyak diangkat oleh para anarkis pada umumnya.
Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu
suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah
lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh
karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya
harus dihilangkan/dihancurkan.
Secara spesifik pada sektor ekonomi, politik, dan administratif, Anarki berarti koordinasi dan
pengelolaan, tanpa aturan birokrasi yang didefinisikan secara luas sebagai pihak
yang superior dalam wilayah ekonomi, politik dan administratif (baik pada
ranah publik maupun privat).
Etimologi
Anarkisme berasal dari kata dasar
"anarki" dengan imbuhan -isme. Kata anarki merupakan kata
serapan dari anarchy (bahasa Inggris) atau anarchie
(Belanda/Jerman/Perancis), yang berakar dari kata bahasa Yunani, anarchos/anarchein. Ini
merupakan kata bentukan a- (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi /n/
dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan
kontrol dan otoritas - secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan
tirani); maka, anarchos/anarchein berarti "tanpa pemerintahan"
atau "pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan
diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan
dikendalikan, dan lain sebagainya". Bentuk kata "anarkis"
berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki, sedangkan akhiran -isme
sendiri berarti paham/ajaran/ideologi.
"Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan
mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari
manusia" (Peter Kropotkin)
"Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya
bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas" (Errico Malatesta
Teori
politik
Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan untuk menciptakan
masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah
sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan
kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari
kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara
satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan Bakunin yang terkenal:
"kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan"
Anarkisme
dan kekerasan
Dalam sejarahnya, para anarkis dalam
berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup
ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam
kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Slogan
para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi:
Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong
senapan
Yang sangat sarat akan penggunaan
kekerasan dalam sebuah metode gerakan. Penggunaan kekerasan dalam anarkisme
sangat berkaitan erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode gerakan dengan
menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh,
yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan. Selama
hal tersebut ditujukan untuk menyerang kapitalisme ataupun negara.
"Anarkisme bukan Bom,
ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula
sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali
kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah
kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak
ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda,
ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa
yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau
serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak,
serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh
ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati
kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan."
Dari berbagai selisih paham antar
anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode,
kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme,
sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna
tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh berbagai media di Indonesia yang
berarti sebagai sebuah aksi kekerasan. Karena bagaimanapun kekerasan merupakan
suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja
dari kalangan apapun.
Sejarah
dan dinamika filsafat anarkisme
Anarkisme sebagai sebuah ide yang
dalam perkembangannya juga menjadi sebuah filsafat yang juga memiliki perkembangan
serta dinamika yang cukup menarik.
Anarkisme
dan Marxisme
Marxisme dalam perkembangannya setelah Marx dan Engels berkembang
menjadi 3 kekuatan besar ideologi dunia yang menyandarkan dirinya pada
pemikiran-pemikiran Marx. Ketiga ideologi itu adalah :
(1) Komunisme, yang kemudian
dikembangkan oleh Lenin menjadi ideologi Marxisme-Leninisme yang saat ini menjadi pegangan
mayoritas kaum komunis sedunia;
Walaupun demikian, ajaran Marx tidak
hanya berkutat pada ketiga aliran besar itu karena banyak sekali
sempalan-sempalan yang memakai ajaran Marx sebagai basis ideologi dan
perjuangan mereka. Aliran lain yang berkembang serta juga memakai Marx sebagai
tolak pikirnya adalah Anarkisme.
Walaupun demikian anarkisme dan
Marxisme berada dipersimpangan jalan dalam memandang masalah-masalah tertentu.
Pertentangan mereka yang paling kelihatan adalah persepsi terhadap negara.
Anarkisme percaya bahwa negara mempunyai sisi buruk dalam hal sebagai pemegang
monopoli kekuasaan yang bersifat memaksa. Negara hanya dikuasai oleh
kelompok-kelompok elit secara politik dan ekonomi, dan kekuatan elit itu bisa
siapa saja dan apa saja termasuk kelas proletar seperti yang diimpikan kaum
Marxis. Dan oleh karena itu kekuasaan negara (dengan alasan apapun) harus
dihapuskan. Di sisi lain, Marxisme memandang negara sebagai suatu organ
represif yang merupakan perwujudan kediktatoran salah satu kelas terhadap kelas
yang lain. Negara dibutuhkan dalam konteks persiapan revolusi kaum proletar, sehingga negara harus
eksis agar masyarakat tanpa kelas dapat diwujudkan. Lagipula, cita-cita kaum
Marxis adalah suatu bentuk negara sosialis yang bebas pengkotakan berdasarkan
kelas.
Selain itu juga, perbedaan kentara
antara anarkisme dengan Marxisme dapat dilihat atas penyikapan keduanya dalam
seputar isu kelas serta seputar metoda materialisme historis
Pierre Joseph Proudhon
Pierre-Joseph Proudhon, adalah pemikir yang mempunyai pengaruh jauh lebih besar
terhadap perkembangan anarkisme; seorang penulis yang betul-betul berbakat dan ‘serba
tahu’ dan merupakan tokoh yang dapat dibanggakan oleh sosialisme modern.
Proudhon sangat menekuni kehidupan intelektual dan sosial di zamanya, dan
kritik-kritik sosialnya didasari oleh pengalaman hidupnya itu. Di antara
pemikir-pemikir sosialis di zamannya, dialah yang paling mampu mengerti
sebab-sebab penyakit sosial dan juga merupakan seseorang yang mempunyai visi
yang sangat luas. Dia mempunyai keyakinan bahwa sebuah evolusi dalam kehidupan
intelektual dan sosial menuju ke tingkat yang lebih tinggi harus tidak dibatasi
dengan rumus-rumus abstrak.
Proudhon melawan pengaruh tradisi
Jacobin yang mendominasi pemikiran demokrat-demokrat di Perancis dan kebanyakan
sosialis pada saat itu, dan juga pengaruh negara dan kebijaksanaan ekonomi
dalam proses alami kemajuan sosial. Baginya, pemberantasan kedua-dua
perkembangan yang bersifat seperti kanker tersebut merupakan tugas utama dalam
abad kesembilan belas. Proudhon bukanlah seorang komunis. Dia mengecam hak
milik sebagai hak untuk mengeksploitasi, tetapi mengakui hak milik umum
alat-alat untuk ber produksi, yang akan dipakai oleh kelompok-kelompok industri
yang terikat antara satu dengan yang lain dalam kontrak yang bebas; selama hak
ini tidak dipakai untuk mengeksploitasi manusia lain dan selama seorang
individu dapat menikmati seluruh hasil kerjanya. Jumlah waktu rata-rata yang
dibutuhkan untuk memproduksi sebuah benda menjadi ukuran nilainya dalam
pertukaran mutual. Dengan sistem tersebut, kemampuan kapital untuk menjalankan
riba dimusnahkan. Jikalau kapital tersedia untuk setiap orang, kapital tersebut
tidak lagi menjadi sebuah instrumen yang bisa dipakai untuk mengeksploitasi.
Internationale
pertama
Tokoh utama kaum anarkisme adalah
Mikhail Bakunin, seorang bangsawan Rusia yang kemudian sebagian besar hidupnya
tinggal di Eropa Barat. Ia memimpin kelompok anarkis dalam
konverensi besar kaum Sosialis sedunia (Internasionale I) dan terlibat
pertengkaran dan perdebatan besar dengan Marx. Bakunin akhirnya dikeluarkan
dari kelompok Marxis mainstream dan perjuangan kaum anarkis dianggap bukan
sebagai perjuangan kaum sosialis. Sejak Bakunin, anarkisme identik dengan
tindakan yang mengutamakan kekerasan dan pembunuhan sebagai basis perjuangan
mereka. Pembunuhan kepala negara, pemboman atas gedung-gedung milik negara, dan
perbuatan teroris lainnya dibenarkan oleh anarkhisme sebagai cara untuk
menggerakkan massa untuk memberontak.
Mikhail Bakunin merupakan seorang tokoh anarkis yang
mempunyai energi revolusi yang dashyat. Bakunin merupakan ‘penganut’ ajaran
Proudhon, tetapi mengembanginya ke bidang ekonomi ketika dia dan sayap
kolektivisme dalam First International mengakui hak milik kolektif atas tanah
dan alat-alat produksi dan ingin membatasi kekayaan pribadi kepada hasil kerja
seseorang. Bakunin juga merupakan anti komunis yang pada saat itu mempunyai
karakter yang sangat otoritar.
Pada salah satu pidatonya dalam
kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ di Bern (1868), dia berkata:
Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan
masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan
mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin
memusnahkan negara --pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang
dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang
sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka.
Bakunin dan anarkis-anarkis lain
dalam First International percaya bahwa revolusi sudah berada di ambang pintu,
dan mengerahkan semua tenaga mereka untuk menyatukan kekuatan revolusioner dan
unsur-unsur libertarian di dalam dan di luar First
International untuk menjaga agar revolusi tersebut tidak ditunggangi oleh
elemen-elemen kediktatoran. Karena itu Bakunin menjadi pencipta gerakan
anarkisme modern. Peter Kropotkin adalah seorang penyokong anarkisme yang
memberikan dimensi ilmiah terhadap konsep sosiologi anarkisme.
Anarkisme model Bakunin, tidaklah
identik dengan kekerasan. Tetapi anarkisme setelah Bakunin kemudian berkembang
menjadi sebuah gerakan yang menjadikan kekerasan sebagai jalur perjuangan
mereka. Dan puncaknya adalah timbulnya gerakan baru yang juga menjadikan
sosialisme Marx sebagai pandangan hidupnya, yaitu Sindikalisme. gerakan ini menjadikan sosialisme
Marx dan anarkisme Bakunin sebagai dasar perjuangan mereka. Bahkan gerakan
mereka disebut Anarko-Sindikalisme.
Varian-varian
anarkisme
Anarkisme, yang besar dan kemudian
berbeda jalur dengan Marxisme, bukan merupakan suatu ideologi yang tunggal. Di
dalam anarkisme sendiri banyak aliran-aliran pemikiran yang cukup berbeda satu
dengan yang lain. Perbedaan itu terutama dalam hal penekanan dan prioritas pada
suatu aspek. Aliran-aliran dan pemikiran-pemikiran yang berbeda di dalam
Anarkisme adalah suatu bentuk dari berkembangnya ideologi ini berdasarkan
perbedaan latar belakang tokoh, peristiwa-peristiwa tertentu dan tempat/lokasi
aliran itu berkembang.
Anarkisme-kolektif
Kelompok anarkisme-kolektif sering
diasosiasikan dengan kelompok anti-otoritarian pimpinan Mikhail Bakunin yang
memisahkan diri dari Internationale I. Kelompok ini kemudian membentuk
pertemuan sendiri di St. Imier (1872). Di sinilah awal perbedaan antara
kaum anarkis dengan Marxis, diman sejak saat itu kaum anarkis menempuh jalur
perjuangan yang berbeda dengan kaum Marxis. Perbedaan itu terutama dalam hal
persepsi terhadap negara.
Doktrin utama dari anarkis-kolektif
adalah "penghapusan segala bentuk negara" dan "penghapusan
hak milik pribadi dalam pengertian proses produksi". Doktrin pertama
merupakan terminologi umum anarkisme, tetapi kemudian diberikan penekanan pada
istilah "kolektif" oleh Bakunin sebagai perbedaan terhadap ide
negara sosialis yang dihubungkan dengan kaum Marxis. Sedangkan pada doktrin
kedua, anarkis-kolektif mengutamakan penghapusan adanya segala bentuk hak milik
yang berhubungan dengan proses produksi dan menolak hak milik secara kolektif
yang dikontrol oleh kelompok tertentu. Menurut mereka, pekerja seharusnya
dibayar berdasarkan jumlah waktu yang mereka kontribusikan pada proses produksi
dan bukan "menurut apa yang mereka inginkan".
Pada tahun 1880-an, para pendukung anarkis kebanyakan
mengadopsi pemikiran anarkisme-komunis, suatu aliran yang berkembang terutama
di Italia setelah kematian Bakunin. Ironisnya, label "kolektif"
kemudian secara umum sering diasosiasikan dengan konsep Marx tentang negara
sosialis.
Anarkisme
komunis
William Godwin
Ide-ide anarkis bisa ditemui dalam setiap periode
sejarah, walaupun masih banyak penelitian yang harus dilakukan dalam bidang
ini. Kita menemuinya dalam karya filsuf Tiongkok, Lao-Tse (yang berjudul Arah dan Jalan yang Benar.) dan
juga filsuf-filsuf Yunani seperti Hedonists dan Cynics
dan orang-orang yang mendukung ‘hukum alam’, khususnya Zeno yang menemukan
aliran ‘Stoic’ yang berlawanan dengan Plato. Mereka menemukan ekspresi dari
ajaran-ajaran Gnostics, Karpocrates di Alexandria dan juga dipengaruhi oleh beberapa
aliran Kristen di Zaman Pertengahan di Perancis, Jerman dan Belanda. Hampir semua dari mereka menjadi
korban represi. Dalam sejarah reformasi Bohemia, anarkisme ditemui dalam karya Peter Chelciky (The Net of Faith) yang mengadili negara dan gereja seperti yang dilakukan
oleh Leo
Tolstoy di kemudian
hari.
Humanis besar lainnya adalah Rabelais yang dalam karyanya menggambarkan kehidupan yang
bebas dari semua cengkraman otoritas. Sebagian dari pemrakarsa ideologi libertarian lainnya adalah La Boetie, Sylvan Marechal, dan Diderot. Karya William Godwin yang berjudul ‘Pertanyaan Mengenai
Keadilan Politik dan Pengaruhnya Terhadap Moralitas dan Kebahagiaan’, merupakan
bagian penting dari sejarah anarkisme kontemporer. Dalam karyanya tersebut
Godwin menjadi orang pertama yang memberikan bentuk yang jelas mengenai filsafat anarkisme dan meletakannya dalam
konteks proses evolusi sosial pada saat itu. Karya tersebut, boleh kita bilang
adalah ‘buah matang’ yang merupakan hasil daripada evolusi yang panjang dalam
perkembangan konsep politik dan sosial radikal di Inggris, yang meneruskan
tradisi yang dimulai oleh George Buchanan sampai Richard Hooker, Gerard Winstanley, Algernon Sydney, John Locke, Robert Wallace dan John Bellers sampai Jeremy Bentham, Joseph
Priestley, Richard Price dan Thomas Paine.
Godwin menyadari bahwa sebab-sebab penyakit
sosial dapat ditemukan bukanlah dalam bentuk negara tetapi karena adanya negara
itu. Pada saat ini, negara hanyalah merupakan karikatur masyarakat, dan manusia
yang ada dalam cengkraman negara ini hanyalah merupakan karikatur diri mereka
karena manusia-manusia ini digalakkan untuk menyekat ekspresi alami mereka dan
untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak akhlaknya. Hanya dengan cara-cara
tersebut, manusia dapat dibentuk menjadi hamba yang taat. Ide Godwin mengenai
masyarakat tanpa negara mengasumsikan hak sosial untuk semua kekayaan alam dan
sosial, dan kegiatan ekonomi akan dijalankan berdasarkan ko-operasi bebas
di antara produsen-produsen; dengan idenya, Godwin menjadi penemu Anarkisme Komunis.
Errico Malatesta (1853–1932)
Namun demikian, kelompok
anarkisme-komunis pertama kali diformulasikan oleh Carlo Cafiero, Errico Malatesta dan Andrea Costa dari kelompok federasi Italia pada
Internasionale I. Pada awalnya kelompok ini (kemudian diikuti oleh anarkis yang
lain setelah kematian Bakunin seperti Alexander Berkman, Emma Goldman, dan
Peter Kropotkin) bergabung dengan Bakunin menentang kelompok Marxis dalam
Internasionale I.
Berbeda dengan anarkisme-kolektif
yang masih mempertahankan upah buruh berdasarkan kontribusi mereka terhadap
produksi, anarkisme-komunis memandang bahwa setiap individu seharusnya bebas
memperoleh bagian dari suatu hak milik dalam proses produksi berdasarkan
kebutuhan mereka.
Kelompok anarkisme-komunis menekankan
pada egalitarianism (persamaan), penghapusan hirarki sosial (social
hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi kesejahteraan yang
merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan
kesukarelaan. Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya
eksis dalam anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk
berkontribusi pada produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan
pilihannya sendiri.
Anarko-Sindikalisme
Bendera yang digunakan dalam gerakan Anarko-Sindikalisme.
Salah satu aliran yang berkembang
cukup subur di dalam lingkungan anarkisme adalah kelompok anarko-sindikalisme.
Tokoh yang terkenal dalam kelompok anarko-sindikalisme antara lain Rudolf Rocker, ia juga pernah menjelaskan ide
dasar dari pergerakan ini, apa tujuannya, dan kenapa pergerakan ini sangat
penting bagi masa depan buruh dalam pamfletnya yang berjudul Anarchosyndicalism
pada tahun 1938.Pada awalnya, Bakunin juga adalah salah satu tokoh dalam
anarkisme yang gerakan-gerakan buruhnya dapat disamakan dengan orientasi
kelompok anarko-sindikalisme, tetapi Bakunin kemudian lebih condong pada
anarkisme-kolektif.
Anarko-sindikalisme adalah salah satu
cabang anarkisme yang lebih menekankan pada gerakan buruh (labour movement).
Sindikalisme, dalam bahasa Perancis, berarti “trade unionism”.
Kelompok ini berpandangan bahwa serikat-serikat buruh (labor unions)
mempunyai kekuatan dalam dirinya untuk mewujudkan suatu perubahan sosial secara
revolusioner, mengganti kapitalisme serta menghapuskan negara dan diganti
dengan masyarakat demokratis yang dikendalikan oleh pekerja.
Anarko-sindikalisme juga menolak sistem gaji dan hak milik dalam pengertian
produksi. Dari ciri-ciri yang dikemukakan di atas, anarko-sindikalisme
sepertinya tidak mempunyai perbedaan dengan kelompok-kelompok anarkisme yang
lain.
Prinsip-prinsip dasar yang membedakan
anarko-sindikalisme dengan kelompok lainnya dalam anarkisme adalah :
Anarkisme
individualisme
Anarkisme individualisme atau
Individual-anarkisme adalah salah satu tradisi filsafat dalam anarkisme yang
menekankan pada persamaan kebebasan dan kebebasan individual. Konsep ini
umumnya berasal dari liberalisme klasik. Kelompok individual-anarkisme percaya
bahwa "hati nurani individu seharusnya tidak boleh dibatasi oleh
institusi atau badan-badan kolektif atau otoritas publik". Karena
berasal dari tradisi liberalisme, individual-anarkisme sering disebut juga
dengan nama "anarkisme liberal".
Individual-anarkisme sering juga
disebut "anarkisme-egois", karena salah satu tokohnya, Max
Stirner, menulis buku "Der Einzige und sein Eigentum" (b.Inggris : The Ego and Its Own / b.Indonesia : Ego dan Miliknya)yang dengan cepat dilupakan, tetapi
mengalami kebangkitan lima puluh tahun kemudian, buku tersebut lebih
menonjolkan peran individu.
Buku Stirner itu pada dasarnya adalah
karya filsafat yang menganalisis ketergantungan manusia dengan apa yang dikenal
sebagai ‘kekuasaan yang lebih tinggi’ (higher powers). Dia tidak takut
memakai kesimpulan- kesimpulan yang diambil dari hasil survei. Buku tersebut
merupakan pembrontakan yang sadar dan sengaja yang tidak menunjukan kehormatan
kepada otoritas dan karenanya sangat menarik bagi pemikir mandiri.
Varian-varian
anarkisme lainnya
Selain aliran-aliran yang disebut di
atas, masih banyak lagi aliran lain yang memakai pemikiran anarkisme sebagai
dasarnya. Antara lain :
Post-Anarchism, yang dikembangkan oleh Saul Newman
dan merupakan sintesis antara teori anarkisme klasik dan pemikiran post-strukturalis.
Anarki pasca-kiri, yang merupakan sintesis antara
pemikiran anarkisme dengan gerakan anti-otoritas revolusioner di luar
pemikiran “kiri” mainstream.
Anarka-Feminisme, yang lebih menekankan pada penolakan pada
konsep patriarka yang merupakan perwujudan hirarki kekuasaan. Tokohnya
antara lain adalah Emma Goldman.
-
Anarkisme
insureksioner, yang merupakan
gerakan anarkis yang menentang segala organisasi anarkis dalam bentuk yang
formal, seperti serikat buruh, maupun federasi. Definisi tentang anarkisme
insureksioner dijelaskan dalam jurnal Do or Die dan pamflet-pamflet
grup Venomous Butterfly yang insureksionis :
Adalah
suatu bentuk, yang tidak dapat terbakukan dalam satu kubu, serta sangat beragam
dalam perspektifnya. Anarkisme Insureksioner bukanlah sebuah solusi ideologis
bagi masalah-masalah sosial, dan juga bukan komoditi dalam pasar ideologi yang
digelar kapitalisme. Melainkan, ia adalah praktik berkelanjutan yang bertujuan
untuk mengakhiri dominasi negara dan berteruskembangnya kapitalisme, yang
membutuhkan analisis-analisis dan diskusi-diskusi untuk menjadikannya semakin
maju dan berkembang. Menurut sejarahnya, kebanyakan anarkis, kecuali mereka
yang percaya bahwa peradaban kapitalisme akan terus berkembang hingga titik
kehancurannya sendiri, percaya bahwa sebentuk aktivitas insureksioner
dibutuhkan untuk dapat mentransformasikan masyarakat secara radikal. Dalam
artian ini, negara harus dipukul mundur dari eksistensinya oleh mereka yang
tereksploitasi dan termarjinalkan, dengan demikian para anarkis harus
menyerang: menunggu sistem ini melenyap dan menghancurkan dirinya sendiri
adalah sebuah kekalahan telak
Anarkisme
dan agama
Pada dasarnya, sejak mulai dari
Proudhon, Bakunin, Berkman, dan Malatesta sampai pada kelompok-kelompok anarkis
yang lain, anarkisme selalu bersikap skeptik dan anti terhadap institusi
agama. Dalam pandangan mereka, institusi keagamaan selalu bersifat hirarki dan
mempunyai kekuasaan seperti layaknya negara, dan oleh karena itu harus ditolak.
Tetapi dalam agama sendiri (Kristen, Yahudi, Islam, dll) sebenarnya pemikiran akan
“anarkisme” dalam pengertian “without ruler” sudah banyak ditemui.
Anarkis-kristen
Dalam agama Kristen, konsep yang
dipakai oleh kaum anarkis-kristen adalah berdasarkan konsep bahwa hanya Tuhan yang mempunyai otoritas dan kuasa di
dunia ini dan menolak otoritas negara, dan juga gereja, sebagai manifestasi
kekuasaan Tuhan. Dari konsep ini kemudian berkembang konsep-konsep yang lain
misalnya pasifisme (anti perang), non-violence (anti kekerasan), abolition
of state control (penghapusan kontrol negara), dan tax resistance
(penolakan membayar pajak). Semuanya itu dalam konteks bahwa kekuasaan negara
tidak lagi eksis di bumi dan oleh karena itu harus ditolak. Tokoh-tokoh yang
menjadi inspirasi dalam perkembangan gerakan anarkis-kristen antara lain :
Soren Kierkegaard, Henry David Thoreau, Nikolai Berdyaev, Leo Tolstoy, dan Adin Ballou.
Anarkisme
dan Islam
Hakim Bey
Dalam agama Islam, kelompok anarkisme
melakukan interpretasi terhadap konsep bahwa Islam adalah agama yang bercirikan
penyerahan total terhadap Allah (bahasa Arab allāhu الله), yang berarti menolak peran
otoritas manusia dalam bentuk apapun. Anarkis-Islam menyatakan bahwa hanya
Allah yang mempunyai otoritas di bumi ini serta menolak ketaatan terhadap
otoritas manusia dalam bentuk fatwa atau imam. Hal ini merupakan elaborasi atas
konsep “tiada pemaksaan dalam beragama”. Konsep anarkisme-islam kemudian
berkembang menjadi konsep-konsep lainnya yang mempunyai kemiripan dengan
ideologi sosialis seperti pandangan terhadap hak milik, penolakan terhadap
riba, penolakan terhadap kekerasan dan mengutamakan self-defense, dan
lain-lain. Kelompok-kelompok dalam Islam yang sering diasosiasikan dengan
anarkisme antara lain : Sufisme dan Kelompok Hashshashin.
Salah seorang tokoh muslim anarkis
yang berpengaruh yaitu Peter Lamborn Wilson, yang selalu menggunakan nama pena
Hakim Bey. Dia mengkombinasikan ajaran sufisme dan neo-pagan dengan anarkisme
dan situasionisme. Dia juga merupakan seorang yang terkenal dengan konsepnya Temporary
Autonomus Zones.
Yakoub Islam, seorang anarkis muslim, pada 25 Juni 2005 mempublikasikan Muslim Anarchist
Charter (Piagam Muslim Anarkis), yang berbunyi :
Tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah
utusannya;
Tujuan dari hidup ialah untuk membangun sebuah
hubungan kasih yang damai dengan Yang Maha Esa melalui pemahaman untuk
bertindak sesuai ajaran, wahyu, serta tanda-tandanya di dalam
Penciptaannya juga hati manusia;
Demi tujuan seperti itu kita harus memiliki
komitmen yang kuat untuk mempelajarinya dengan kehendak hati yang bebas,
dan secara sadar menolak setiap bentuk kompromi dengan institusi
kekuasaan, entah dalam bentukbnya yang yuridis, relijius, sosial,
korporatik maupun politis;
Demi tujuan seperti itu kita harus aktif di dalam
kegiatan merealisasikan keadilan yang bertujuan untuk membangun sebuah
komunitas-komunitas dan masyarakat dimana pembangunan jiwa yang spiritual tidak terbatasi
lagi oleh kemiskinan, tirani, dan ketidakpedulian.
Muslim Anarchist Charter menolak:
Kekuatan fasis yang bertujuan untuk
memapankan kebenaran tunggal yang absolut, termasuk patriarki, kerajaan, dan
kapitalisme.
Kritik
atas anarkisme
Baik secara teori ataupun praktik,
anarkisme telah menimbulkan perdebatan dan kritik-kritik atasnya. Beberapa
kritik dilontarkan oleh lawan utama dari anarkisme seperti pemerintah. Beberapa
kritik lainnya bahkan juga dilontarkan oleh para anarkis sendiri serta ada juga
yang muncul dari kalangan kaum kiri otoritarian seperti yang dilontarkan oleh
kalangan marxisme. Kritik biasanya dilontarkan sekitar permasalahan idealisme
anarkisme yang mustahil dapat diterapkan di dunia nyata, seperti apa yang
banyak dipecaya oleh para anarkis mengenai ajaran bahwa manusia pada dasarnya
baik dan bisa menggalang solidaritas kemanusiaan untuk kesejahteraan manusia
tanpa penindasan oleh sebagiannya yang hal tersebut banyak dibantah oleh para
ekonom. Dan juga mengenai ajaran bahwa setiap manusia lahir bebas setara yang
juga dibantah oleh para pakar sosiolog.
Kritik juga dilontarkan atas
penolakan anarkisme terhadap organisasi sentralis seperti pemerintahan kaum
buruh, partai revolusioner, dan lain sebagainya, yang dianggap oleh banyak
pihak justru akan melemahkan posisi kaum anarkis apabila revolusi terjadi. Hal
ini juga yang dituduhkan kepada para anarkis saat revolusi Spanyol terjadi, paska pengambilan kekuasaan
oleh kaum proletariat atas rezim fasis yang pada saat itu berkuasa di Spanyol.
Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang
menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan
pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan
memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.
Beberapa
penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok
etnis tertentu sendiri (etnosentrisme),
ketakutan terhadap orang asing (xenofobia),
penolakan terhadap hubungan antarras (miscegenation), dan generalisasi
terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe)
Rasisme
telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial,
segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering
menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan
dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan
identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat
kontroversial.
Fanatisme adalah sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi
buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari,
fanatisme juga berarti kesenangan yang berlebihan (tergila-gila, keranjingan).
Sepenggal perjalanan kisah hidup Chairil Anwar adalah salah satu contoh saja. Dia lebih berat
membeli buku sastra daripada membeli makanan untuk bertahan hidup, atau
obat untuk menyembuhkan penyakit raja singa yang
dideritanya. Lihat pula penggemar fanatik grup band Slank yang
rela membentuk komunitas suka rusuh, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran.
Dipastikan, mereka wajib hadir jika grup pujaannya melakukan konser di daerah
mereka.
Fasisme (/ fæʃɪzəm /) adalah, gerakan radikal ideologi nasionalis
otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif
korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka
menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter yang berusaha
mobilisasi massa suatu bangsa dan terciptanya "manusia baru" yang
ideal untuk membentuk suatu elit pemerintahan melalui indoktrinasi, pendidikan
fisik, dan eugenika kebijakan keluarga termasuk. Fasis percaya bahwa bangsa
memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan dan
kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang
kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara. Fasisme
didirikan oleh sindikalis nasional Italia dalam Perang
Dunia I yang menggabungkan sayap kiri dan sayap kanan pandangan
politik, tapi condong ke kanan di awal 1920-an. Para sarjana umumnya menganggap
fasisme berada di paling kanan. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai
memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam memberikan renovasi
spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk mendominasi dalam
karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui dinas militer .
Fasis kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang menciptakan regenerasi
semangat, nasional dan vitalitas. Fasisme adalah anti-komunisme,
anti-demokratis, anti-individualis, anti-liberal, anti-parlemen,
anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus
anti-kapitalis Fasisme. menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme,
dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan
akan. Dalam ilmu ekonomi, fasis menentang liberalisme (sebagai
gerakan borjuis) dan Marxisme (sebagai sebuah gerakan
proletar) untuk menjadi eksklusif ekonomi berbasis kelas gerakan Fasis ini.
ideologi mereka seperti yang dilakukan oleh gerakan ekonomi trans-kelas yang
mempromosikan menyelesaikan konflik kelas ekonomi untuk mengamankan solidaritas
nasional Mereka mendukung, diatur multi-kelas, sistem ekonomi nasional yang
terintegrasi.
Kapitalisme atau Kapital
adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya
untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka
pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi
intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung
kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya
tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli
mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada
abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di
mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan
tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi,
terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang
jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan
bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk
mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang,
yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal
ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat
ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang
menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih
lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.
Etimologi
fascismo adalah istilah yangberasal dari kata Latin fasces.
Fasces, yang terdiri dari serumpun batang yang diikatkan di kapak, adalah
simbol otoritas hakim sipil Romawi
kuno. Mereka dibawa oleh para lictor dan dapat digunakan
untuk hukuman fisik dan modal berdasarkan perintah-Nya. Kata fascismo juga
terkait dengan organisasi politik di Italia dikenal sebagai fasci,
kelompok mirip dengan serikat kerja atau sindikat.
Simbolisme
fasces menyarankan kekuatan melalui kesatuan: sebuah batang tunggal adalah
mudah patah, sedangkan rumpunan akan sulit untuk mengalami perpecahan . Simbol
serupa dikembangkan oleh gerakan fasis yang berbeda. Misalnya simbol Falange
yang berbentuk sekelompok anak panah yang bergabung bersama oleh sebuah kuk.
Liberalisme atau Liberal adalah
sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang
didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah
nilai politik yang utama.
Secara umum,
liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh
kebebasan berpikir bagi para individu.Paham liberalisme menolak adanya
pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama
Dalam masyarakat
modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan
keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas.
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti
pandangan-pandangan dari Karl
Marx.Marx menyusun
sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.Marxisme
mencakup materialisme dialektis dan materialisme historis
serta penerapannya pada kehidupan sosial.
Latar
belakang
Marxisme merupakan dasar teori komunisme modern.Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan Friedrich Engels.Marxisme merupakan bentuk protes Marx
terhadap paham kapitalisme.Ia menganggap bahwa kaum kapital
mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar.Kondisi kaum proletar
sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum,
sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak
kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh.Marx berpendapat
bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan
penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya.Untuk menyejahterakan kaum
proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme.Bila kondisi ini terus dibiarkan,
menurut Marx, kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Inilah
dasar dari marxisme.
Pengaruh Marxisme
Karl Marx.
Salah satu alasan mengapa Marxisme
merupakan sistem pemikiran yang amat kaya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga
tradisi intelektual yang masing-masing telah sangat berkembang saat itu, yaitu filsafat Jerman, teori politik Perancis, dan ilmu ekonomi Inggris.Marxisme tidak bisa begitu saja
dikategorikan sebagai "filsafat" seperti filsafat lainnya, sebab
marxisme mengandung suatu dimensi filosofis yang utama dan bahkan memberikan
pengaruh yang luar biasa terhadap banyak pemikiran filsafat setelahnya.Itulah sebabnya, sejarah filsafat zaman modern tidak mungkin
mengabaikannya.